Tpptamiang.web.id | ACEH TAMIANG.
Ketika berbicara tentang pembangunan desa, perhatian publik umumnya tertuju kepada Datok Penghulu (Kepala Desa), perangkat kampung, atau proyek-proyek fisik yang tampak kasat mata. Namun, di balik setiap proses perencanaan, musyawarah, hingga lahirnya berbagai kebijakan desa, terdapat sosok yang kerap bekerja tanpa sorotan. Mereka adalah Tenaga Pendamping Profesional (TPP), disebut juga Pendamping Lokal Desa (PLD), yang menjadi mitra strategis pemerintah desa dalam memastikan roda pemerintahan berjalan sesuai aturan dan kebutuhan masyarakat.
Salah satu sosok tersebut adalah “Kasiani”, Pendamping Lokal Desa (PLD) yang bertugas di wilayah kerja Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, di bawah Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Dalam menjalankan tugasnya, Kasiani dikenal sebagai pendamping yang aktif turun langsung ke desa-desa dampingan. Baginya, pendampingan bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi membangun komunikasi, memperkuat kapasitas aparatur desa, dan memastikan setiap tahapan pembangunan dapat berjalan dengan baik.
Hal itu terlihat saat Datok Penghulu Kampung Lueng Manyo yang baru dilantik mulai menjalankan roda pemerintahan. Di tengah masa transisi kepemimpinan, Kasiani hadir memfasilitasi pertemuan silaturahmi antara Datok Penghulu, perangkat kampung, lembaga kemasyarakatan, serta berbagai unsur masyarakat. Sekilas, kegiatan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, jika dicermati lebih jauh, forum seperti inilah yang menjadi fondasi awal membangun pemerintahan desa yang solid.
Silaturahmi bukan sekadar saling berjabat tangan atau memperkenalkan diri. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk menyatukan visi, membangun kepercayaan, serta membuka komunikasi antara pemimpin baru dengan seluruh unsur pemerintahan kampung. Proses seperti ini sering kali menentukan bagaimana sebuah pemerintahan desa akan berjalan selama enam tahun ke depan”ujar Kasiani, Rabu (22/07/2026)

Dalam pertemuan tersebut, Kasiani manyampaikan “Peran pendamping desa dalam situasi tersebut sangat penting. pendamping Desa tidak mengambil alih kewenangan Datok Penghulu, tetapi memastikan setiap proses berlangsung sesuai regulasi, mendorong partisipasi masyarakat, serta memberikan pendampingan agar keputusan yang dihasilkan benar-benar berpihak pada kepentingan desa.
Akhir penyampaian Kasiani mengatakan Bahwa “Sayangnya, peran ini sering kali luput dari perhatian. Ketika pembangunan berhasil, apresiasi biasanya mengalir kepada pemerintah desa. Sebaliknya, ketika muncul persoalan administrasi atau keterlambatan program, pendamping desa sering ikut menjadi sasaran kritik. Padahal, mereka bekerja di balik layar dengan tantangan yang tidak ringan, mulai dari kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, hingga tuntutan penyelesaian berbagai dokumen dan program dalam waktu yang bersamaan.
Kasiani menjadi salah satu contoh bahwa dedikasi seorang pendamping desa tidak selalu diukur dari seberapa sering namanya muncul di media, melainkan dari sejauh mana ia mampu membantu desa menjadi lebih tertib, transparan, dan berkembang. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten memberi ruang bagi aparatur desa untuk belajar, memperbaiki tata kelola pemerintahan, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Pembangunan desa sejatinya bukan hanya tentang membangun jalan, jembatan, atau gedung. Yang jauh lebih penting adalah membangun sumber daya manusia, memperkuat kelembagaan, dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik. Semua itu membutuhkan kolaborasi antara Datok Penghulu, perangkat kampung, lembaga desa, masyarakat, dan pendamping profesional.
Kehadiran Kasiani dalam mendampingi Kampung Lueng Manyo menunjukkan bahwa pembangunan yang berkualitas selalu dimulai dari komunikasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas aparatur. Peran seperti ini mungkin tidak selalu terlihat oleh publik, tetapi dampaknya akan dirasakan dalam jangka panjang melalui pemerintahan desa yang semakin profesional, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah desa bukanlah hasil kerja satu orang. Ia lahir dari sinergi banyak pihak yang bekerja dengan tujuan yang sama. Dan di antara mereka, Tenaga Pendamping Profesional adalah bagian penting yang layak mendapat apresiasi karena telah memilih bekerja lebih banyak dengan tindakan daripada sorotan.
Penulis : Andi TPP
